4 Nasehat Memulai Bisnis Untuk Mahasiswa Dari Buku Bondan Winarno

4 Nasehat Memulai Bisnis Untuk Mahasiswa Dari Buku Bondan Winarno

Foto Bondan Winarno Via viva.co.id

Memulai bisnis tentu bukan hanya sekedar kata atau kiasan semata. Tentu sangat diperlukan 3M, yaitu motivasi, mindset, dan make it. Jika hanya sekedar wacana, tentu bisnis yang direncanakan dan dikhayalkan itu hanya sebatas mimpi. Memang hambatan berbisnis itu banyak, beberapanya karena terlalu muda/terlalu tua, tidak berbakat dan tidak punya modal.

Memang untuk memulai usaha, terkadang seseorang yang mampu mengerluarkan ide perlu ada dalam dua kondisi, yaitu terlalu susah atau terlalu bosan. Mahasiswa yang pernah merasakan sulitnya mengupayakan membayar uang kuliah dan SKSnya tentu selalu memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang dan terpikirlah inspirasi dan keberanian untuk memulai usaha, sedangkan mahasiswa yang bosan dengan kesehariannya yang itu – itu saja, tentu memikirkan inovasi seru dengan modal yang mencukupi.

Lantas, bagaimana sih tips bisnis yang bisa sedikit menarik perhatian minat dan kesadaran mahasiswa? Berikut ini beberapa kiat yang berhasil di kutip dari buku karangan Bondan Winarno.

1. Berlatih Stress

Sedikit mengulas dasar dari bisnis global, Jepang memang sempat menjadi role model bagi negara – negara yang ingin maju. Negara – negara industri baru seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hongkong selalu tampak selangkah di belakang Jepang. Di negara- negara tersebut tampak common denominator yang jelas, yaitu komitmen pada pengembangan sumber daya manusia.

Baca Dulu 5 Ide Bisnis Rumahan Dengan Modal Kecil Omset Ratusan Juta

Bagaimana bisa? Itu karena gaya hidup spartan ditanamkan sejak kecil, begitu pula sense of achievement mereka. Tak heran bahkan hingga sekarang pun masih banyak remaja Jepang yang bunuh diri karena mendapatin hasil ujian yang jelek. Sedangkan di Korea Selatan, setiap paginya mereka membawa bekal sebut saja tiga bungkus roti. Mengapa harus sebanyak itu?.

Karena pelajar di Korea Selatan memiliki jam belajar yang panjang di sekolah mereka hingga jam 10 malam. Jikapun tidak, mereka akan menghabiskan waktu untuk kerja kelompok ke rumah salah satu teman, dan dengan adanya bekal makanan tersebut, mereka tidak merepotkan tuan rumah.

Nah, lantas bagaimana dengan mahasiswa di Indonesia? Beberapa kampus sekarang ini memang memberlakukan shift pagi, siang, dan sore untuk mahasiswanya agar bisa memiliki waktu untuk bekerja. Namun, bagaimana dengan universitas – universitas negeri yang jam kuliahnya hingga sore? .

Nah, disini mahasiswa tentu dipaksa untuk mampu menghadapi berbagai macam kesulitan. Mungkin mulai dari masalah kos – kosan, ongkos kesana – kemari, uang untuk fotocopy ini itu, dan lain sebagainya. Berlaku pula untuk yang bekerja. Dalam keadaan berkuliah, jarang ada mahasiswa memiliki pekerjaan dengan gaji yang memuaskan. Nah, dengan demikian, sangat diperlukan niat mahasiswa untuk berani terjun ke banyak masalah.

Intinya, mahasiswa yang berani memulai adalah sumber daya manusia yang suatu saat akan mampu membantu perekonomian di Indonesia ini. Kuncinya adalah harus bisa fleksibel, mandiri, self financing, dan tahan banting.

2. Kerja itu Siksaan?

Dalam bahasa Prancis, kerja adalah travail yang diderivasikan dari bahasa latin trepalium. Trepalium bukanlah kata sifat, melainkan adalah sebuah alat yang terdiri atas tiga lapis dan dipakai untuk menyiksa orang. Jadi, dengan kata lain, kerja itu adalah siksaan tersendiri. Para workaholics pun, bahkan mengakui bahwa bekerja bukanlah sesuatu yang ringan dan sepele. Bukan hanya harus mengeluarkan tenaga untuk melakukannya, berpikir pun adalah kerja keras. Membuat keputusan dan bahkan berpikir tentang kerja itu sendiri pun sudah berat.

Lantas, pernahkan anda membaca atau mendengar kalimat “i’m allergic to work”. Sepertinya di jaman sekarang sudah sangat jarang dan bahkan tak pernah lagi bukan? Namun, sekarang yang terjadi adalah ‘tinggi gengsi’. Banyak sekali mahasiswa muda yang gengsi dengan keadaan yang sebenarnya. Padahal, masa muda adalah masanya memulai, masanya menjadi giat, kerja keras dan di hari tua dapat memetik hasilnya dengan baik.

Tetapi menjadi gengsi sedikit bisa diambil tekanannya, karena jika anda gengsi menjadi cleaning service, itu artinya anda dipaksa untuk mencari inovasi pekerjaan lain. Nah, ujung – ujungnya jadi ingin membuka usaha sendiri? Anda bisa menjual aneka minuman, atau snack – snack unik lainnya. Jika masih gengsi juga, maka lakukanlah inovasi pada menu yang akan dijual.

Bisa dengan tambahan keju, minuman salad buah, ice cream crispy, dan lain sebagainya. Tapi, pastikan dalam penjualan awal, anda menjualnya tidak mengharap untung yang besar. Dalam proses perkenalan produk, yang penting adalah kesan, maka membuat kesan dengan harga cukup di kantung mahasiswa pasti akan baik untuk anda. jika modal saja pun sudah mahal, maka desainlah bungkus yang unik dan asik dipamerin ke sosial media.

3. Kecil Itu Menguntungkan

Orang – orang tidak lagi terobsesi untuk hanya memikirkan hal – hal yang besar saja. Sebab, tanpaperhatian pada hal – hal yang kecil, orang justru kehilangan fokus ketika menangani hal yang besar. Nah, lantas apa yang mampu menguntungkan mahasiswa bila bentuknya kecil ? mudah saja, tentu kemasan. Keberhasilan usaha, terutama di pasar Indonesia memang banyak ditentukan oleh cara mengemas produk yang dijual.

Contohnya produk rumah tangga seperti deterjen, bahan makanan, minuman botol, hingga kosmetik kecantikan, jika kemasannya mini, maka peminatnya menjurus ke semua kalangan umur. Berbeda sekali dengan yang terjadi di Amerika Serikat loh, mereka memberlakukan family size, eceonomy size, dan personal size.

Nah, informasi baik untuk mahasiswa bukan? Jadi tidak perlu takut mengeluarkan biaya yang banyak untuk masalah mendesain kemasan. Dalam pasar yang sedang menghadapi pukulan ekonomi yang berat seperti ini, kemasan mini nan ekonomis adalah jalan keluar yang terbaik bukan? Namun pastikan, anda tidak menenkankan unsur kemurahannya karena itu hanya akan menyinggung perasaan konsumen. Pastikan anda menekankan unsur inovasi dari kemasan itu sendiri ya.

4. Peningkatan Produktivitas

Sedikit cerita tentang dasarnya, peningkatan produktivitas dalam benak anda pastilah penambahan pekerjaan. Padahal tidak selalu begitu. Di jaman sekarang ini, anda tidak lagi harus kerja keras sampai jungkir balik kalau ada improvement lain seperti sarana, alat, dan prosedur kerja.

Contoh sepelenya seperti meraut pensil. Jika anda merautnya dengan pisau atau cutter, akan menghabiskan banyak waktu dan belum tentu pensilnya juga nyaman dipakai. Lantas jika memakai rautan, akan jauh lebih praktis bahkan dengan harga yang jauh lebih murah daripada pisau raut. Contoh lainnya jika anda adalah seorang yang bekerja dibagian pelayanan.

Pasti wajar jika anda seorang perempuan membutuhkan waktu berlama – lama ditoilet bahkan hingga 15 menit. Namun apakah atasan anda mengindahkannya? Bagaimana jika mereka berpikir bahwa anda sedang mengulur – ulur waktu? Tentu anda harus bisa yakinkan atasan anda bahwa anda adalah seorang yang loyal, dengan berbenah diri saat seusai dari kamar mandi dan senantiasa terlihat cantik kapanpun.

Nah, Ukuran dan pertimbangan kemanusiaan inilah yang selalu harus diperhitungkan dalam upaya peningkatan upaya peningkatan produktivitas.

Baca Juga Tips dan Cara Mewujudkan Bisnis Online Impianmu Dari Sekarang

Lantas, bagaimana dengan anda yang seorang mahasiswa dan baru ingin memulai bisnis/usaha mikro? Cukup mudah. Anda hanya perlu berpikir fokus dan menunjukkan keseriusan anda dengan memberikan totalitas yang sempurna dan pantas untuk konsumen anda. intinya, tanamkan sikap Savior Faire, yaitu cara mengerjakan sesuatu dengan benar karena merupakan unsur penting dalam produktivitas.

4 Nasehat Memulai Bisnis Untuk Mahasiswa Dari Buku Bondan Winarno | Siopung | 4.5