Misteri Gerhana Bulan Merah Beserta Fakta Dan Mitosnya

Misteri Gerhana Bulan Merah
Misteri Gerhana Bulan Merah

Gerhana bulan adalah peristiwa di mana cahaya matahari terhalang oleh bumi, sehingga bulan tidak mendapatkan cahaya tersebut.

Dilihat dari perspektif penghuni bumi, gerhana membuat bulan memiliki tiga kemungkinan: tidak dapat terlihat sama sekali, hanya terlihat sebagian, atau terlihat memiliki warna yang berbeda dari biasanya.

Salah satu perubahan warna bulan yang pernah terjadi adalah perubahan warna menjadi merah. Peristiwa ini biasa juga disebut sebagai blood moon, mengingat saat itu, bulan terlihat seperti sedang “berdarah”.

Menurut sains, warna merah tersebut tercipta akibat efek hamburan rayleigh yang terjadi di atmosfer. Psst, efek rayleigh juga merupakan efek yang membuat langit terlihat kemerahan saat matahari terbenam, lho!


Namun, walaupun fenomena blood moon  atau bulan merah bisa dijelaskan secara sains, masih banyak juga pihak yang menghubungkan fenomena tersebut dengan hal-hal mistis.

Berikut adalah beberapa contohnya.

1. Tanda kemarahan Tuhan

Mitos yang berkembang pada zaman Yunani Kuno membuat orang-orang percaya bahwa gerhana, termasuk juga blood moon, adalah tanda kemarahan Tuhan. Gerhana dianggap sebagai awal mula dari bencana yang diturunkan Tuhan di suatu wilayah, entah sebagai hukuman atau ujian.

Baca juga

Ngomong-ngomong, kata gerhana sendiri (eclipse) berasal dari kata ekleipsis, yang dalam bahasa Yunani Kuno memiliki arti “ditinggalkan”.

2. Menyebabkan Makanan Jadi Beracun

Setiap gerhana terjadi, sebagian masyarakat India menolak untuk memakan makanan mereka. Penyebabnya, mereka menganggap gerhana sebagai peristiwa yang tidak lazim dan dapat membawa energi negatif ke seisi semesta, termasuk juga makanan.

Jika makanan tersebut termakan, tubuh pun jadi ikut terkontaminasi dengan energi negatif. Konon, hal itu dapat menyebabkan ketidakseimbangan, baik secara fisik maupun psikologis.

Sebagai informasi, sebuah organisasi spiritual bernama BAPS Swaminarayan Sanstha bahkan melarang para anggotanya untuk makan sembilan jam sebelum gerhana (walaupun minum air masih diperbolehkan).

Tidak hanya India, Jepang juga memilik mitos serupa, tetapi berhubungan dengan air.

Konon, menurut kepercayaan Jepang, gerhana bulan membuat makhluk jahat muncul, lalu berkeliaran. Makhluk tersebut menyebarkan racun serta keburukan melalui sumur-sumur air.

Itulah alasan mengapa kebanyakan warga Jepang menutup sumurnya saat gerhana berlangsung.

3. Bulan Dimakan oleh Naga

Menurut kepercayaan Tiongkok, gerhana bulan terjadi saat naga yang sedang marah melampiaskan amarahnya dengan cara memakan bulan.

Masyarakat Tiongkok, yang percaya bahwa peristiwa tersebut bukanlah peristiwa baik, pun berusaha “mengembalikan bulan” dengan cara membunyikan petasan. Konon, naga adalah makhluk yang takut pada bunyi-bunyian keras, sehingga ia akan kabur dan mengembalikan bulan yang ia telan.

Kepercayaan serupa juga dimiliki oleh masyarakat Pulau Dewata dan Pulau Jawa. Namun, menurut mereka, makhluk yang memakan bulan bukanlah naga, melainkan raksasa.

Sama seperti masyarakat Tiongkok, masyarakat Jawa juga memukul lesung dan kentongan (menciptakan bunyi-bunyian keras) untuk mengusir sang raksasa.

4. Berpengaruh pada Kehamilan

Mitos tentang kehamilan adalah salah satu mitos yang paling populer, bahkan di Indonesia.

Konon katanya, seluruh ibu hamil harus tinggal di dalam rumah selama gerhana berlangsung. Jika mereka nekat keluar rumah, anak mereka akan terlahir sebagai tunanetra atau memiliki bibir sumbing.

Sumber lain mengatakan bahwa di Gunungkidul, Yogyakarta, saat gerhana bulan berlangsung, ibu hamil harus “disembunyikan” di bawah kolong kasur demi menghindari risiko bayi terlahir cacat.

Setelah gerhana selesai, perut mereka juga masih harus dibalur dengan abu hangat dari perapian.

Baca juga

Walaupun para ilmuwan telah mengklarifikasi bahwa gerhana bulan, termasuk juga blood moon, adalah fenomena alam yang wajar saja terjadi, mitos-mitos di atas masih dipercaya oleh banyak orang. Bahkan sampai saat ini.

Namun, selama kita masih saling menghargai, tentu saja percaya atau tidak percaya bukanlah sebuah masalah.

Ngomong-ngomong, masih ingatkah kamu pada peristiwa blood moon yang terjadi pada 27 – 28 Juli 2018 lalu?