10 Perpustakaan Dengan Konsep Paling Unik di Dunia

Perpustakaan Dengan Konsep Unik

Perpustakaan Dengan Konsep Unik

Apakah kamu menganggap perpustakaan itu adalah tempat yang membosankan?

Dulu mungkin iya, namun di zaman sekarang, banyak perpustakaan yang tak hanya untuk membaca buku saja, tapi juga tergabung dengan cafe, ada komputer dan wifi gratis juga.

Namun, sayangnya, banyak daerah-daerah di dunia yang tak punya perpustakaan sama sekali, apalagi perpustakaan modern dengan berbagai fasilitas di dalamnya.

Lalu, bagaimana orang-orang kutu buku yang tinggal di pelosok-pelosok daerah? Beberapa perpustakaan di bawah ini adalah jawabannya.

10. Buku dari Gajah

Gajah memang terkenal sebagai hewan besar dengan ingatan yang kuat dan juga biasa main di sirkus. Namun, siapa sangka ternyata gajah juga bisa menjadi pustakawan?

Di daerah pegunungan Omkoi, Thailand, tak ada sekolah ataupun perpustakaan di sana, sehingga banyak orang tak bisa membaca dan menulis.

Banyak dari desa-desa terpencil tersebut hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, apalagi di musim hujan, jalanan menjadi lebih sulit–tapi tidak dengan gajah.

Di Thailand, gajah memang sudah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, nah sekarang mereka mulai masuk ke ranah buku.

Ada sekitar 20 gajah yang diikutkan dalam program ini. Setiap tim terbagi menjadi dua gajah, pelatihnya dan setidaknya dua guru.

Kelompok ini ditugaskan di berbagai tempat berbeda dan setiap tahunnya mereka berhasil masuk ke desa-desa terpencil yang tak pernah tersentuh buku sebelumnya.

9. Perpustakaan Tank

Perpustakaan Tank

Perpustakaan Tank

Seniman esentrik Raul Lemesoff menciptakan “tank” khusus ini untuk berperang melawan kebodohan dan untuk menyebarkan pengetahuan di jalan-jalan Bueons Aires. Perpustakaan tank miliknya ini dibuat dengan memodifikasi mobil Ford Falcon 1979.

Bisa menyimpan hingga 900 buku, Lemesoff memang bisa membantu banyak orang.

Baca Juga : 10 Ritual Pemakaman Paling Aneh dan Menyeramkan Di Dunia

Namun, ia berkata bahwa target utamanya adalah anak-anak muda karena jika mereka suka membaca saat muda maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai tua.

8. Biblioburros

Biblioburros

Biblioburros

Keledai memang sudah sering digunakan sebagai hewan dengan tugas angkut-angkut barang, namun sekarang mereka punya tugas khusus, yakni membawa buku-buku ke daerah pelosok di pegunungan Venezuela.

Disponsori oleh Universitas Momboy, Biblioburros ini telah mengubah hidup banyak warga desa-desa terpencil di Gunung Andes.

Perjalanan Bibilioburros dimulai dari Lembah Momboy di Trujillo, dimana buku-buku diangkut. Dari situ, maka selama dua jam ke depan, para relawan mulai menaiki keledai tersebut untuk naik ke jalan-jalan terjal di gunung.

Menurut para relawan, senyuman para anak-anak setiap kali mereka datang dalam sekejap bisa menghilangkan rasa capek mereka.

7. Taman Bacaan Levinski

Taman Bacaan Levinski

Perpustakaan Levinski terletak di dekat terminal bus Tel Aviv, tepat di daerah yang para warganya merupakan pengungsi dan pekerja imigran. Banyak dari mereka merupakan imigran gelap, namun hal itu tak menghalangi minat baca seseorang.

Perpustakaan Levinski adalah perpustakaan yang simpel–tak ada tembok, hanya dua rak buku yang dibangun di salah satu rumah penampungan. Di sini terdapat koleksi hingga 3500 buku dalam 15 bahasa yang berbeda.

Dari bahasa Mandarin China, Amharic Ethiopia hingga bahasa Latin.

Hal yang paling unik dari perpustakaan ini adalah “sistem catatan” yang ada di sana. Di mana setiap pembaca bisa menuliskan apa yang mereka rasakan saat membaca buku itu.

Satu orang mungkin sedih membacanya, tapi bagi orang lain buku itu bisa saja justru menginspirasinya. Sistem ini bertujuan agar membuat setiap buku itu lebih menarik bagi pembaca.

6. Perpustakaan Manusia

Perpustakaan Manusia

Perpustakaan Manusia

Apa itu Perpustakaan Manusia? Perpustakan ini adalah tempat di mana “buku-buku hidup” disimpan. Tidak, bukan buku yang bisa bicara melainkan buku ini berbentuk manusia.

Ya, buku di Perpustakaan Manusia ini adalah orang-orang yang punya berbagai kisah menarik untuk diceritakan.

“Pembaca” bisa mengobrol dengan mereka selama 30 menit, dan disitulah hal yang membuat perpustakaan ini luar biasa, karena setiap dari mereka adalah orang-orang yang punya latar belakang yang sangat unik dan mungkin tak bisa kamu temui dua kali dalam hidupmu.

Orang-orang kaum triple minority, mantan penjahat hingga orang-orang yang dipaksa kabur dari negaranya bisa kamu temukan di sini.

Perpustakaan Manusia ini memang dibuat dengan tujuan untuk menjadi wadah orang-orang bercerita dan mendengarkan satu sama lain. Motto dari perpustakaan ini adalah, “Don’t judge a book by its cover.”

5. ATM Buku

ATM Buku

ATM Buku

Saat kamu tak bisa tidur, ngidam untuk membaca buku namun waktu menujukkan pukul 3 pagi, maka tak usah bingung karena dengan ATM Buku ini, kamu bisa membeli buku kapanpun kamu mau dari sana. Menarik sekali, ya?

ATM Buku ini biasanya tersedia di tempat-tempat yang ramai, seperti mall, rumah sakit, bandara atau hingga tempat parkir. Namun karena sistemnya yang mirip ATM, maka koleksi buku yang ada di sini juga terbatas dan harus selalu diawasi agar tak kehabisan stok.

4. Kelompok Membaca 2000

Kelompok Membaca 2000

Kelompok Membaca 2000

Di tahun 2000, orang tua dari Hernando “Nanie” Guanlao meninggal. Ia ingin selalu mengenang mereka dan ia sadar bahwa “warisan” terindah yang pernah orang tuanya berikan pada Nanie adalah kecintaannya dalam membaca.

Maka dari itu, ia bersumpah untuk menularkan rasa cintanya itu kepada orang lain dan membuka perpustakaan.

Pada awalnya, Nanie punya sekitar 100 buku di rumahnya. Ia lalu memajang buku-buku itu di halaman depan dan sebuah tulisan bahwa buku miliknya itu merupakan konsumsi publik.

Ia sempat ragu awalnya, apakah buku-buku itu akan dicuri? Apakah orang-orang bahkan tertarik dengan perpustakaan apa adanya miliknya ini?

Dengan cepat buku itu hilang–dan muncul lagi, beserta donasi buku-buku lainnya. Sejak itu, koleksinya selalu bertambah. Sekarang, Kelompok Membaca 2000 sudah punya sekitar 3000 buku dan ia juga sering memberikan bukunya itu ke perpustakaan lain yang membutuhkan.

Koleksi beragam, dari majalah, novel remaja hingga buku filosofi sekalipun.

Di perpustakaan ini, tak ada kartu keanggotaan, tak ada tanggal pengembalian dan tak ada denda keterlambatan.

Jika kamu sangat menyukai bukunya, kamu bisa memilikinya. Apa yang dilakukan Nanie ini adalah suatu hal yang benar-benar luar biasa dan pantas untuk mendapat applaus.

3. Buku Apung

Buku Apung

Buku Apung

Buku dan air memang bukan kombinasi yang bagus, namun ada satu pengecualian, yakni kapal buku bernama Epos yang berlayar di perairan Norway.

Kapal dengan panjang 24 meter itu telah dimodifikasi sehingga bisa menampung hingga 6000 buku, lengkap dengan dapur dan tempat tidur untuk para kru.

Epos beroperasi pada bulan September hingga April. tepat pada musim dingin. Selama waktu tersebut, kapal buku ini berhasil mengunjungi hingga 150 desa-desa pinggiran terpencil yang sulit diakses menggunakan transportasi tradisional, seperti mobil.

Kapal buku ini punya jadwal yang ketat.

Mereka datang tepat waktu di suatu tempat dan akan “mangkal” hingga dua jam. Biasanya mereka bisa mendapatkan pengunjung hingga 150 orang setiap tempatnya, dengan mayoritas anak-anak dan orang tua.

2. Perpustakaan Unta

Perpustakaan Unta

Perpustakaan Unta

Selama 20 tahun lamanya, Jambyn Dashdondog–sang pencipta Perpustakaan Unta di Mongolia, telah berkelana hingga 80.000 km melewati hujan deras dan teriknya sinar matahari.

Ia dibantu oleh istri serta anaknya dan mereka bertiga bepergian menaiki unta, gerobak sapi dan sebuah mobil van lawas.

Di tahun 1990-an, pemerintah Mongolia memisahkan diri dari komunisme, sehingga perlahan mereka tak punya dana yang cukup untuk dialokasikan ke perpustakaan.

Dashdondog yang merupakan penulis terkenal, sangat membenci negara yang tak punya perpustakaan, sehingga jika para anak-anak tak bisa mendapatkan buku, maka ia sendiri yang akan turun tangan memberikan buku ke anak-anak tersebut.

Saat Perpustakaan Unta mengunjungi sebuah tempat, Dashdondog akan tinggal selama beberapa hari untuk memberikan waktu bagi para warga untuk membaca buku.

Perpustakaan Unta ini didanai dari penjualan buku dan puisi ciptaannya sendiri–yang bahkan beberapa sudah diangkat menjadi film.

Sayangnya, Dashdondog meninggal tahun 2017 lalu, namun jasanya tak akan terlupakan, terutama oleh anak-anak yang pernah merasakan perpustakaannya.

1. Perpustakaan Mikro yang Bisa Kamu Bangun Sendiri

Perpustakaan Mikro

Perpustakaan Mikro

Apakah kamu suka mengunjungi perpustakaan? Jika iya, sekarang kamu bisa memiliki perpustakaan pribadimu sendiri, lho. Ide yang berasal dari Todd Bol, ini begitu populer sekarang, dimana sudah diterapkan oleh 75000 orang di 88 negara di seluruh dunia.

Awalnya, Todd membangun Perpustakaan Mikro pertamanya karena melihat perpustakaan mini di Portland, Oregon.

Perpustakaan buatannya tersebut dibuat dengan model sekolah yang ia isi beberapa buku dan ia tempatkan di depan rumah sebagai penghormatan kepada almarhum ibunya.

Setelah itu, Todd berkeliling kota dan mulai membangun beberapa Perpustakaan Mikro di berbagai tempat. Sejak itulah, program Little Free Library lahir. Jika kamu tertarik, kamu juga bisa kok ikutan, silahkan kunjungi saja situsnya disini.

Buku memang menjadi gerbang bagi berbagai pengetahuan yang ada, sehingga banyak orang rela melakukan hal-hal ekstra agar bisa membaca buku seperti beberapa orang di atas.

Baca Juga : 15 Benda-Benda Menakjubkan yang Dibuat dari LEGO

Namun, di zaman dimana internet merajalela dengan berbagai hiburan 24 jamnya yang tak pernah berhenti, membaca buku menjadi aktivitas yang semakin ditinggalkan.